<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Pengungsi on Kasus HAM Internasional</title><link>https://kasusham.com/tags/pengungsi/</link><description>Recent content in Pengungsi on Kasus HAM Internasional</description><generator>Hugo</generator><language>id-ID</language><lastBuildDate>Tue, 20 Jan 2026 10:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://kasusham.com/tags/pengungsi/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Tragedi Mediterania: Hak Hidup Pengungsi di Tengah Pengetatan Perbatasan Eropa</title><link>https://kasusham.com/posts/mediterranean-refugee-crisis/</link><pubDate>Tue, 20 Jan 2026 10:00:00 +0700</pubDate><guid>https://kasusham.com/posts/mediterranean-refugee-crisis/</guid><description>&lt;p&gt;Laut Mediterania, yang secara historis merupakan jembatan peradaban, kini telah berubah menjadi kuburan massal bagi ribuan manusia yang mencari perlindungan. Memasuki awal tahun 2026, krisis migrasi di jalur laut ini tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Sebaliknya, pengetatan kebijakan perbatasan oleh Uni Eropa dan pengurangan misi penyelamatan resmi telah menciptakan zona berbahaya di mana hak paling mendasar manusia—&lt;strong&gt;hak untuk hidup&lt;/strong&gt;—sering kali diabaikan demi agenda keamanan politik.&lt;/p&gt;
&lt;h3 id="jalur-mematikan-antara-keputusasaan-dan-tembok-laut"&gt;Jalur Mematikan: Antara Keputusasaan dan Tembok Laut&lt;/h3&gt;
&lt;p&gt;Para pengungsi yang melintasi Mediterania Tengah berasal dari wilayah yang dilanda konflik, krisis iklim, dan kemiskinan ekstrem di Afrika dan Timur Tengah. Bagi mereka, laut bukan sekadar penghalang, melainkan satu-satunya harapan yang tersisa.&lt;/p&gt;</description></item><item><title>Krisis Rohingya: Anatomi Pembersihan Etnis di Myanmar yang Terabaikan Dunia</title><link>https://kasusham.com/posts/rohingya-krisis-kemanusiaan/</link><pubDate>Wed, 15 Oct 2025 00:00:00 +0000</pubDate><guid>https://kasusham.com/posts/rohingya-krisis-kemanusiaan/</guid><description>&lt;p&gt;Pada Agustus 2017, dunia menyaksikan salah satu krisis kemanusiaan terburuk abad ke-21. Dalam operasi yang digambarkan militer Myanmar sebagai &amp;ldquo;pembersihan&amp;rdquo; dari kelompok militan, lebih dari 700.000 etnis Rohingya terpaksa melarikan diri dari negara bagian Rakhine ke Bangladesh dalam hitungan minggu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun, apa yang terjadi bukanlah sekadar operasi keamanan rutin. Investigasi yang dilakukan oleh berbagai organisasi hak asasi manusia internasional mengungkap pola sistematis pembunuhan massal, pemerkosaan terorganisir, dan pembakaran desa yang mengarah pada satu kesimpulan mengerikan: genosida.&lt;/p&gt;</description></item></channel></rss>